Bacalah Catatan Ini Jika Ingatanmu Tentangku Pulih Kembali

Juli 2014
Awal dari segala kisah kita. Aku tidak pernah merencanakan untuk mengenalmu lebih dekat apalagi mencintaimu saat itu. Ya, kita hanya sebatas kenal di media sosial. Entah dari mana datangnya, saat itu kamu selalu saja meninggalkan "komentar" di setiap tulisan yang aku posting. Aku hanya membalas "komentar" mu datar. Karena aku sama sekali tidak tertarik denganmu (saat itu). Hingga berjalannya waktu kamu semakin sering berupaya untuk mendekatiku. Baiklah, kufikir tidak ada salahnya untuk mencoba lebih dekat denganmu. Kita sepakat untuk bertemu atau bahasa kerennya "kopdar", aku membawa teman-teman ku dan kamu sendirian. Aku selalu saja ingin tertawa setiap mengingat kenangan saat itu. Saat dimana aku mengenalmu yang sudah sangatlah jauh berbeda dari sekarang. Singkat cerita, September 2014 akhirnya kita memutuskan untuk bersama, walaupun saat itu sebenarnya aku belum sepenuhnya yakin terhadapmu, terlebih aku baru saja berpisah dengan orang yang kuanggap akan menjadi masa depanku. Aku ingat sekali bahwa kamu berjanji untuk tidak seperti dia, kamu berjanji akan "membahagiakanku" dan janji-janji lainnya yang membuatku memutuskan untuk menjalin hubungan denganmu. Hubungan kita berjalan mulus sekali, aku merasa beruntung dan tidak menyesal telah menjalin hubungan denganmu. Hingga pada saat itu tiba, saat dimana aku merasa aku dan kamu sangatlah berbeda, bertolak belakang. Kita selalu berbeda pendapat, sampai pada akhirnya aku yang mengakhiri hubungan itu. Aku merasa kamu bukanlah orangnya. Saat itu aku tahu, bahwa aku telah salah. Aku menyakitimu. Maafkan aku. 


Oktober 2015
Entah bagaimana ceritanya, kamu hadir kembali saat itu setelah sekian lama kita tak saling berhubungan. Aku memanfaatkan waktu itu untuk meminta maaf atas kesalahanku yang lalu, yang telah meninggalkanmu begitu saja hanya karena aku merasa kita berbeda. Padahal aku tahu, justru hubungan yang dijalani oleh orang yang memiliki kepribadian berbeda justru tantangan, tantangan untuk menyatukan perbedaan tersebut. Lihatlah puzzle, kepingannya berbeda-beda, tetapi saat disatukan justru membentuk sesuatu yang saling melengkapi, indah. Dan saat itulah kita kembali bersama. Kamu percaya akulah orang yang kamu cintai dengan semestinya,begitupun aku terhadapmu. Aku pelan-pelan semakin yakin kamulah jawaban atas doa-doa yang pernah kupanjatkan. Kita mengawalinya dengan kabar bahwa kamu akan pindah keluar kota karena kamu sudah menemukan pekerjaan yang baru. Aku merasa senang dan sedih saat itu. Senang karena akhirnya cita-citamu untuk bekerja di perusahaan milik negara telah tercapai. Sedih karena itu berarti kita harus menjalani hubungan jarak jauh. Kita mengorbankan banyak hal demi rencana-rencana yang telah kita tetapkan. Kamu meyakinkan aku perihal jarak dan waktu bukanlah penghalang rindu. Aku memahamimu dengan segala kesibukanmu. Kita bertaruh demi mewujudkan kedekatan dan membunuh jarak yang menjauhkan. Kamu tak pernah mengeluh, meski mungkin saja pernah didera lelah. Aku tidak pernah merasa jenuh meski banyak hal yang harus kutenangkan karena pikiran yang gaduh. Kamu dan aku bersepakat untuk tetap menjaga semangat. Kita bertahan demi hari yang lebih indah dimasa depan. Kamu paham, bahwa tak ada yang mudah. Katamu, semua butuh diperjuangkan. Ketakutan adalah suatu hal yang harus mampu kita kalahkan. Sebab itulah, aku selalu kagum padamu, dari caramu berfikir, caramu memandang hidup, prinsip hidup yang kamu yakini, sisi religiusmu. Semuanya selalu membuatku jatuh cinta setiap harinya. Kamu bukanlah seperti lelaki kebanyakan. Kamu sangat suka membaca buku, seperti aku. Kamu tidak tertarik dengan "merokok". Kamu pekerja keras. Kamu bukan laki-laki yang mudah sekali menuliskan keluhan atau pamer sana sini di media sosial. Kamu berbeda. Walaupun saat denganku, ada saja hal-hal aneh dan menggelikan yang kamu lakukan. Ya, aku pernah mendengar bahwa seorang introvert sepertimu akan menunjukkan sifat aslinya hanya kepada seseorang yang memang dia percaya dan dia cintai. Waktu berjalan,  hari-hari kita dihiasi dengan rentetan video call di setiap waktu luang. Karena hanya dengan cara itu kita merasa "dekat". Aku rindu sekali melihat wajahmu yang kelelahan karena seharian bekerja dan mengeluh kepadaku seperti anak kecil. Aku rindu saat kamu bercerita bahwa kamu bosan setiap hari hanya menyantap nasi goreng, rasanya saat itu aku ingin sekali didekatmu, menjadi istrimu sehingga aku bisa membuatkan masakan untukmu dan kamu tidak lagi menyantap nasi goreng setiap harinya. :') 
Hubungan kita semakin serius, kita bahkan sudah sepakat jika menikah nanti tidak ingin menyusahkan orangtua, karenanya kamu berinisiatif untuk menabung deposito yang hanya bisa diambil saat tahun kita mengadakan pernikahan. Kamu juga sudah kesana kemari mencari brosur perumahan disekitar tempatmu bekerja, memintaku untuk memilih dimana rumah yang ingin aku tinggali. Kita sudah berdiskusi bagaimana nantinya kehidupan setelah pernikahan kita. Aku yang harus pindah untuk mengabdi bersamamu. Semuanya sudah kita rencanakan. Sampai pada hari itu, hari yang tak pernah kuduga. Hari dimana saat itu kita tak lagi seperti biasanya. Entah apa yang merasuki, kita memutuskan untuk berpisah. Walau sampai saat ini sebenarnya aku masih tidak paham. Semudah itukah kita meruntuhkan apa yang selama ini sudah kita bangun? 
Ya, benar. Sebaik-baiknya rencana adalah rencana sang Maha Kuasa, Maha membolak-balikan hati, Allah SWT. Mungkin memang bukan aku yang akan menjadi makmummu, dan bukan kamu yang akan menjadi imamku nanti. Bukan kamu orang yang harus aku patuhi seumur hidupku. 

Satu yang pasti, aku banyaaakk sekali belajar dari kejadian ini. Hidupku banyak berubah. Menjadi lebih baik tentunya. Tak henti-hentinya aku berdoa, semoga walaupun kita tak bersama, kamu dan aku akan menemukan seseorang yang lebih baik, yang saling melengkapi, yang menggenapi, yang membuat hati damai saat menatapnya, yang bisa membawa dan menuntun kita ke Jannah-Nya. Aamiin... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamu

Biarlah Aku Menjadi Abu dan Kau Tetaplah Menjadi Api